Menelusuri Jejak UMKM di Desa Cimekar: Kunjungan Kelompok 33

Foto
Artha Kalyana (33)
28 July 2026  •  Dilihat 37 kali

Pada tanggal 25 Agustus 2026, Kelompok 33 melaksanakan kegiatan kunjungan lapangan ke beberapa pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berada di Desa Cimekar, khususnya di wilayah RW 12 Kampung Sejekengkol. Kegiatan ini diawali dengan proses survei awal yang difasilitasi oleh Ketua dan Sekretaris Karang Taruna RW 12 guna mengidentifikasi UMKM yang aktif dan potensial untuk dikaji lebih lanjut.

Berdasarkan hasil survei, tim memilih empat UMKM sebagai objek kunjungan, yaitu pengrajin doran pacul milik Abah Amar, usaha konveksi milik Bapak Yayat, produksi keripik pisang “888” milik Ibu Lisna, serta usaha sablon “Badjoe” milik Kang Dhani.

UMKM pertama yang dikunjungi adalah usaha pembuatan doran pacul milik Abah Amar yang berlokasi di Kampung Sejekengkol RW 12 RT 02. Usaha ini bersifat home industry dan dikelola secara mandiri tanpa karyawan. Dalam sehari, Abah Amar mampu memproduksi sekitar lima buah doran pacul dengan sistem produksi berdasarkan pesanan (pre-order). Produk ini umumnya dijual ke toko material dengan harga berkisar antara Rp25.000 hingga Rp30.000 per unit, dan proses pembuatannya memakan waktu sekitar dua hari.

Dalam wawancara, Abah Amar menjelaskan:
“Biasanya saya bikin kalau ada pesanan saja, jadi sistemnya PO. Sehari bisa sekitar lima kalau lagi banyak pesanan. Semuanya masih manual, saya kerjakan sendiri.”

UMKM kedua adalah usaha konveksi milik Bapak Yayat yang berlokasi di Kampung Sejekengkol RW 12 RT 01. Usaha ini bergerak di bidang jasa maklon pembuatan pakaian seperti baju, rompi, dan kemeja. Operasional usaha ini hanya dijalankan oleh Bapak Yayat dan istrinya tanpa tenaga kerja tambahan. Sistem pemasaran masih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut serta pemesanan melalui WhatsApp dan Facebook.

Dalam sesi wawancara, Bapak Yayat menyampaikan:
“Pesanan biasanya datang dari kenalan atau rekomendasi. Kami kerjakan berdua saja dengan istri, jadi menyesuaikan kapasitas. Yang penting kualitas tetap dijaga.”

Selanjutnya, tim mengunjungi UMKM Keripik Pisang 888 milik Ibu Lisna yang juga berada di wilayah RW 12. Usaha ini memproduksi berbagai olahan pisang seperti keripik pisang rasa manis lumer, pedas, serta sale pisang. Proses produksi dilakukan secara mandiri, dan sistem penjualan menggunakan metode pre-order dengan waktu produksi sekitar tiga hari. Produk dijual ke warung dengan harga Rp1.500 per bungkus, serta tersedia juga dalam bentuk kiloan.

Ibu Lisna menjelaskan:
“Biasanya saya buat sendiri, dari pengolahan sampai pengemasan. Kalau pesanan banyak, sistemnya PO sekitar tiga hari. Kami juga titip jual ke warung-warung sekitar.”

UMKM terakhir yang dikunjungi adalah usaha sablon “Badjoe” milik Kang Dhani, yang juga merupakan Ketua Karang Taruna RW 12. Usaha ini menyediakan jasa penyablonan pakaian dengan berbagai jenis pesanan, mulai dari seragam TK, baju karang taruna, hingga pesanan komunitas lainnya. Dalam operasionalnya, usaha ini menjalin kerja sama dengan pihak konveksi untuk proses penjahitan dan penyediaan bahan kain.

Dalam wawancara, Kang Dhani menyampaikan:
“Kami fokus di sablon, tapi untuk jahit dan bahan biasanya kerja sama dengan konveksi. Jadi sistemnya kolaborasi. Sekarang juga lagi banyak pesanan, seperti seragam TK dan komunitas.”

Melalui kegiatan kunjungan ini, Kelompok 33 memperoleh pemahaman langsung mengenai proses produksi, sistem pemasaran, serta tantangan yang dihadapi oleh masing-masing UMKM. Selain itu, terlihat bahwa sebagian besar pelaku usaha masih mengandalkan metode tradisional baik dalam produksi maupun pemasaran, sehingga terdapat peluang besar untuk pengembangan melalui digitalisasi dan peningkatan kapasitas usaha.

Dokumentasi Foto