BANGUN KELUARGA TANGGUH DI ERA DIGITAL, WARGA RANCATUNGKU IKUTI SEMINAR DIGITAL PARENTING KKN KELOMPOK 9 UNFARI

Foto
Gamacipta (9)
8 August 2026  •  Dilihat 25 kali

(Rancatungku, 8/8/2026) – Anak-anak hari ini akan hidup di dunia yang belum sepenuhnya dapat dibayangkan oleh orang dewasa. Kemajuan teknologi semakin pesat, tetapi satu hal yang tidak boleh berubah, yaitu masa depan anak yang harus tetap menjadi sesuatu yang dipersiapkan. Pesan itulah yang menjadi benang merah kegiatan seminar “Sustainable Future: Digital Parenting sebagai Upaya Membangun Keluarga Tangguh dan Sehat di Era Digital” di Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), RW 10, Kampung Mengger, Desa Rancatungku.

Kegiatan tersebut menjadi lanjutan rangkaian program Kelompok 9 KKN-TB Universitas Al-Ghifari yang sebelumnya menghadirkan “English Class” dan “sosialisasi mengenai stunting”. Ketiga program itu kemudian ditempatkan dalam satu kerangka yang sama: bagaimana menyiapkan anak sebagai masa depan desa agar memiliki kemampuan, kesehatan, dan lingkungan yang memadai untuk menghadapi masa depan.

Anak membutuhkan pendidikan agar mampu mengembangkan kapasitasnya. Anak membutuhkan kesehatan agar dapat tumbuh dan belajar secara optimal. Pada saat yang sama, anak juga tumbuh dalam lingkungan digital yang semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, persoalannya bukan lagi apakah anak akan berhadapan dengan teknologi, melainkan bagaimana anak tumbuh bersama teknologi tersebut.

Seminar yang diikuti masyarakat Desa Rancatungku tersebut mengajak orang tua melihat teknologi bukan semata-mata sebagai ancaman yang harus dijauhkan dari anak. Teknologi memiliki ruang yang besar untuk menjadi sarana belajar, memperoleh informasi, berkomunikasi, dan mengembangkan kreativitas. Namun, manfaat tersebut tidak muncul secara otomatis.

Tanpa pendampingan, ruang digital juga dapat membawa anak pada pola penggunaan yang tidak sehat, paparan informasi yang tidak sesuai usia, hingga kebiasaan yang mengganggu proses tumbuh kembang. Maka, orang tua tidak cukup hanya menjadi pihak yang membatasi waktu penggunaan digital. Akan tetapi orang tua juga perlu menjadi pendamping yang membantu anak memahami bagaimana teknologi seharusnya digunakan.

“Masa depan anak tidak boleh hancur karena digital. Sebaliknya, dengan digital, masa depan anak harus menjadi lebih cerah.” Pesan tersebut menjadi inti dari gagasan Sustainable Future yang dibawa dalam kegiatan kelompok 9 Gamacipta. Masa depan yang berkelanjutan tidak hanya berarti menjaga lingkungan untuk generasi berikutnya, tapi juga memastikan bahwa generasi berikutnya memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi dunia yang diwariskan kepadanya.

Materi digital parenting disampaikan oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok 9, Dr. Baiq Vera El Viera, M.Si. dan apt. Tita Khosima, M.Farm. Keduanya memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pola pengasuhan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi serta pentingnya keluarga dalam membentuk kebiasaan digital anak.

Kegiatan berlangsung dalam dua kloter, yaitu pukul 12.30 WIB dan 15.30 WIB. Namun, substansi kegiatan tidak berhenti pada ruang seminar. Pesan tentang kesehatan juga coba dihadirkan melalui hal sederhana dalam penyajian konsumsi.

Peserta disuguhi ubi, jagung, dan kacang tanah yang disajikan tanpa tambahan bumbu. Pilihan tersebut menjadi bagian dari upaya membawa kembali perhatian pada makanan sederhana dan pangan yang tidak banyak mengalami pengolahan, sekaligus menghubungkan kegiatan terakhir dengan sosialisasi stunting yang telah dilakukan sebelumnya.

Dengan cara tersebut, rangkaian program tidak berhenti sebagai kumpulan kegiatan yang berdiri sendiri. English Class berbicara tentang kemampuan anak. Sosialisasi stunting berbicara tentang kesehatan anak. Digital parenting berbicara tentang lingkungan tempat anak tumbuh. Maka yang harus dibangun adalah generasi yang mampu belajar, tumbuh sehat, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi sebagai alat untuk memperluas kemungkinan hidupnya, bukan membiarkan teknologi menentukan arah hidupnya.

Dari Desa Rancatungku, gagasan Sustainable Future akhirnya menemukan bentuk yang sederhana, yaitu “masa depan tidak dimulai ketika anak-anak dewasa, tetapi masa depan dimulai dari apa yang mereka pelajari, apa yang mereka konsumsi, siapa yang mendampingi mereka, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan dunia digital hari ini.” Sebab pada akhirnya, masa depan bukan sesuatu yang hanya ditunggu. Ia sedang tumbuh di depan mata, dalam diri anak-anak yang hari ini sedang kita bentuk.

 


Penulis: Muhamad Ihza Farhani

Dokumentasi Foto