Merajut Mimpi Lewat Kata: Pengalaman Mengajar Bahasa Inggris di SDN Dukuh 2 dan SDN Palipurna
22 June 2025 · Dilihat 11 kali
Pendidikan adalah jendela dunia, dan di sudut-sudut pedesaan, jendela itu dibuka melalui upaya gigih para pendidik. Di SDN Dukuh 2 dan SDN Palipurna, Bahasa Inggris bukan sekadar mata pelajaran tambahan, melainkan sebuah gerbang yang berusaha kami buka. Mengajar di dua sekolah dasar ini adalah sebuah perjalanan istimewa, sebuah dedikasi untuk merajut mimpi anak-anak desa melalui pengenalan kata-kata baru.
Program ini kami laksanakan pada hari Kamis, 5 Juni 2025, sebagai bagian dari komitmen untuk menghadirkan pendidikan yang bermakna dan inklusif, bahkan di wilayah dengan akses terbatas.
Ketika pertama kali mengucapkan "hello," ekspresi polos dan sedikit kebingungan sering terlihat di wajah mereka. Faktanya, anak-anak di SDN Dukuh 2 dan SDN Palipurna belum diajarkan Bahasa Inggris secara formal sebelumnya, sehingga hanya segelintir anak yang sudah mengenal bahasa ini dari sumber lain. Mayoritas siswa belum akrab dengan bahasa asing, membuat tantangan awal adalah menumbuhkan minat dan keberanian untuk berinteraksi. Kami tidak mengandalkan metode konvensional; sebaliknya, pembelajaran dikemas secara kreatif. Bermain, bernyanyi lagu anak-anak berbahasa Inggris, atau sekadar menghitung benda di sekitar mereka dalam Bahasa Inggris, menjadi cara ampuh membuat proses belajar terasa menyenangkan dan jauh dari kesan menakutkan. Setiap kali mereka berhasil melafalkan sebuah kata dengan benar, senyum lebar dan raut bangga langsung terpancar, seolah mereka baru saja menaklukkan sesuatu yang besar.
Tentu saja, perjalanan ini tidak luput dari tantangan. Keterbatasan fasilitas, minimnya paparan Bahasa Inggris di lingkungan rumah, dan variasi tingkat pemahaman antar siswa adalah dinamika harian yang harus dihadapi. Namun, dari sinilah lahir kreativitas dan inovasi dalam pendekatan mengajar. Kami dituntut mencari cara-cara baru agar materi mudah diserap dan relevan dengan konteks mereka. Yang paling berharga adalah menyadari bahwa pendidikan bukan melulu soal kurikulum, melainkan juga tentang hubungan emosional yang terjalin antara guru dan siswa. Melihat semangat belajar mereka yang tak pernah padam, meskipun dengan segala keterbatasan, menjadi sumber energi dan inspirasi bagi kami.
Di penghujung setiap sesi, ketika mereka melambaikan tangan sambil mencoba mengucapkan "goodbye" dengan aksen polos, ada rasa haru dan harapan yang membuncah. Mereka mungkin belum fasih, namun benih kemampuan berbahasa dan kepercayaan diri telah kami tanamkan. Bahasa Inggris di SDN Dukuh 2 dan SDN Palipurna lebih dari sekadar pelajaran; ia adalah jembatan kecil yang menghubungkan mereka dengan informasi global dan peluang di masa depan. Melalui setiap kata dan frasa yang diajarkan, kami turut serta merajut mimpi-mimpi mereka untuk bisa berkomunikasi dengan dunia yang lebih luas. Pengalaman ini adalah bukti nyata: dengan dedikasi dan cinta, kita bisa membuka potensi anak-anak bangsa, di mana pun mereka berada, mempersiapkan mereka menghadapi tantangan global dengan lebih percaya diri.